rohmat

Tantangan bagi dunia pendidikan di revolusi industry era 4.0 hampir pasti semakin kompleks. Perubahan yang berkembang demikian cepat. Pun interkoneksi berbagai bidang kehidupan membuat kompleksitas itu menjadi keniscayaan. Tentang hal ini, organisasi internasional seperti Organization for Economic and Development (OECD) sejak tahun 2005 sudah memprediksikannya. Organisasi kerja sama ekonomi dan pembangunan beranggotakan 30 negara di dunia ini mensinyalir hal itu dengan tepat. Menurut OECD, dampak paling nyata dari globalisasi dan modernisasi tidak lain kecuali membuat dunia semakin beragam serta saling terhubung.

Jauh sebelum itu, McLuhan (1962) sudah menginsyaratkan tentang masyarakat dunia yang hidup dalam imajinasi ruang bersama. Itu semacam suatu ruang interaksi global yang secara tepat dimetaforakan oleh Mcluhan dengan istilah global village. Desa Buana. Ini jelas merupakan dampak langsung dari akselerasi perkembangan teknologi informasi yang luar biasa cepat. Fenomena seperti yang disinyalir oleh OECD dan Mcluhan itu, terjadi di semua bidang dan lapisan kehidupan serta aktifitas manusia.

Kompleksitas tantangan global serupa inilah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim (2019) menekankan pentingnya penambahan dua kompetensi bagi pendidikan karakter di Indonesia. Keduanya berupa kompetensi computational thinking dan compassion. Dua kompetensi ini notabene melengkapi fokus kecakapan pendidikan karakter sebelumnya yang dikenal dengan 4C; Creativity, Communication, Critical Thinking, dan Collaboration. Empat kompetensi pada pendidikan karakter ini memang sudah digariskan dalam sistim pendidikan nasional melalui kurikulum 2013

Fakta terkini menunjukkan dunia menunjukkan perkembangan yang sudah bergerak lebih jauh dari sekedar sinyalemen OECD dan Mcluhan itu. Dunia saat ini sudah bergeser lebih progresif dari sekedar saling terinterkoneksi dan membentuk desa buana. Bukannya sekedar saling terinterkoneksi, dunia kini hampir-hampir telah terotomatisasi secara robotik. Di segala bidang. Di segala aspek kehidupan. Tak terkecuali di dunia pendidikan. Pada segala unsurnya. Pada semua bidang studi dan mata pelajaran serta pembelajarannya. Tak terkecuali pada pembelajaran geografi. Terlebih utama pada materi sistem informasi geografi menuntut keluasan dan kedalaman materi yang aplikatif sehingga mudah di pahami dan di prkatiakan oleh peserta didik. SIG merupakan sistem yang berakar pada kartografi yang berperan untuk menyajikan, menampilkan, mengedit, menganalisis dan mencetak data keruangan yang hasilnya berupa peta, grafik dan data keruangan. Model pembelajaran SIG di SMA merupakan keterampilan yang sangat menunjang dalam proses pembuatan peta. Keterampilan ini perlu ditunjang fasilitas pembelajaran. Model pembelajaran kajian SIG harus dilakukan secara bertahap dengan berbagai latihan dalam menyajikan informasi keruangan dengan menggunakan Komputer.

Dalam pembuatan sistem informasi geografis (GIS) kita butuh software sebagai media untuk membuat sistem informasi geografis baik itu berbayar maupun yang Free open source. Tapi disini yang kita bahas adalah beberapa list rekomendasi software GIS yang berbasis open source alias gratis dengan fungsi yang tak kalah mumpuni dari yang berbayar. (walupun gratis jangan lupa value nya tidak gratisan).

“Fungsi dari GIS tidak semata-mata hanya untuk membuat peta, tetapi merupakan alat analitik yang mampu memecahkan masalah spasial secara otomatis, cepat dan teliti, karena didesain untu mengumpulkan, menyimpan dan menganalisis objek dan fenomena dimana lokasi geografi merupakan karakteristik penting untuk di analisis.”[imantux.wordpress.com]
Beberapa aplikasi yang bisa kita gunakan seperti :QGIS (Quantum, GIS) gVSIG, Whitebox GAT, SAGA GIS, GRASS GIS. Pengalaman belajar peserta didik harus mengahasilakan produk yang berbasis TIK seperti peta digital , dan informasi geografi digital yang relevan dengan kondisi saat ini dan yang akan datang

Model yang sederhana dalam pembelajaran geografi di SMA menggunakan langkah – langkah sebagi berikut:

  1. Menyediakan data Menyediakan data atau peta, merupakan langkah pertama yang perlu dilakukan dalam membuat SIG. Peta dapat berupa peta tematik yang sudah ada, atau “menurunkannya” dari peta basis (basic map) yang tersedia. Untuk membuat SIG, paling tidak diperlukan dua atau lebih peta tematik. Semakin kompleks masalah yang hendak dipecahkan, semakin banyak peta tematik yang diperlukan. Tematics layers Struktur tata ruang kota Persil bangunan Jalan dan jembatan Penggunaan lahan
  2. Membuat klasifikasi Masing-masing peta memiliki klasifikasi dan nilai skor yang penentuannya dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan peta tersebut, atau dibuat sendiri dengan klasifikasi dan penyekoran yang logis dan “masuk akal”.
  3. Melakukan “overlay” atau tumpang susun Secara sederhana, peta-peta tematik yang ada ditumpang-susunkan atau di-overlay untuk menentukan skor yang diperoleh. Skor total yang diperoleh akan menentukan hasil analisis SIG yang dibuat. Dari hasil penyekoran akan didapatkan peta “baru” yang menggambarkan agihan atau distribusi model SIG yang diinginkan. Contoh:
    • Direncanakan untuk membuat SIG yang digunakan untuk analisis lahan kritis atau tingkat kekritisan lahan di suatu wilayah adminsitrasi tertentu. Data atau peta tematik yang diperlukan adalah: (1) Peta kemiringan lereng, (2) peta Ketebalan Solum Tanah, (3) Peta Penutup Lahan.
    • Buat atau susun peta yang diperlukan dalam suatu alur pemikiran sbb. Peta Topografi Peta Jenis Tanah Data Inderaja Peta Adminstrasi Peta Lereng Peta Ketebalan Solum tanah Peta Penutup Lahan kemudian buatlah Pengharkatan (Skoring) untuk Peta Agihan Tingkat Lahan Kritis, Agihan Lahan Kritis per Kecamatan kemudian membuat REKOMENDASI (produk peta SIG digital)

Dengan demikian pembelajaran geografi menggunakan pendekatan computational thinking memgesankan bagi peserta didik bukan sekedar pengetahuan belaka yang abstrak.*

 

Rohmat, S.Pd.

Guru Mata Pelajaran Geofrafi SMAN 1 Rembang Purbalingga

Komentar