“Suatu Alternatif Menggagas Paradigma Baru Membangun Sistem Pendidikan dan Konsep Pemikiran Pengentasan Pengangguran di Indonesia”

Oleh : Ruswanto, S.Pd. *)

Seandainya temanku membaca tulisan ini, kuharap tidak mencela. Sebagaimana teman yang masih ingin terus menghantarkan anak negeri meraih berjuta prestasi.Aku memainkan kayboard ini dengan gemetar. Coba bayangkan konsep pemikiran inovatif “MEMBANGUN SISTEM PENDIDIKAN & KONSEP PEMIKIRAN PENGENTASAN PENGANGGURAN” ini akan dijadikan penilaian atas usaha saya selama 14 tahun menjadi guru. Untuk memperoleh hadiah UMRAH ke tanah suci. Semoga impian ini menjadi kenyataan. Ikutilah perjalanan tulisan ini dengan tekun tanpa mengedipkan mata !

“Teman!” Aku sangat mendambakan guru-guru di Indonesia yang terus mempunyai konsep pemikiran berinovasi dalam pembelajaran. Akupun merindukan konsep pemikiran inovatif yang memberikan terobosan tentang konsep pendidikan dalam mengentaskan pengangguran di Indonesia. Rinduku pada konsep itu, tak dapat kupisahkan dengan rinduku pada guru se-tanah air ini. Dan kebanggaanku akan memuncak seandainya teman-teman kelak bersedia menciptakan media dan metode pembelajaran unggul untuk mengentaskan pengangguran. Atau mungkin, hasil karya yang kelak akan kubingkai indah, untuk diterapkan buat anak didikku kelak.

Aku rindu dengan guru yang banyak menciptakan karya pembelajaran, yang akan menambah wawasan bagi kami. Rindu itu tak ubahnya Aku merindukan datangnya seorang karib yang dapat mengisi hari-hariku.

Taman pasti akan senang memandang jika anak didik kita berprestasi membuat karya nyata yang bisa sebagai bekal untuk kehidupannya.

Jika teman belum memulai, cobalah mulai mencintai, sedikit demi sedikit, teman? Lakukan dari yang terkecil terlebih dahulu. Cari kearifan lokal yang bisa di jadikan sumber belajar dalam menanamkan jiwa entrepreneur. Contoh konkretnya begini. “Salak Jawa di Kabupaten Purbalingga tersisih oleh Salak Pondoh, itu dikarenakan rasa manis yang kalah jauh dibanding dengan salak Pondoh. Namun jika kita mau mengemas sedikit, di poles di jadikan permen Salak ternyata Salak Jawa memiliki keunggulan lebih karena aroma salak dan rasa asam menjadikan permen Salak Jawa mendapat nilai lebih dibanding citra rasa pada salak pondoh. Contoh lain adalah membuat telur asin aneka rasa pada materi difusi osmosis, membuat pasta gigi dari bahan dasar kinang, membuat kenalpot ramah lingkungan, dan lain-lain. Ini contoh kecil pembelajaran entrepreneur.
Dari yang sedikit niscaya akan meraih hasil yang membukit! Tumbuhkanlah jiwa entrepreneur pada anak didik, bagai tanganmu yang selalu menyiram air pada bunga-bunga di taman. Air itu akan menyegarkan tanaman itu. Budayakan pada anak didik kita untuk selalu membaca, berpikir kritis, dan mencari terobosan wirausaha jika memimpikan anak didikmu kelak tidak menganggur. Bukankah hati ini akan terbuka jika disiram dengan buku-buku tentang wirausaha ?

Siapakah yang sanggup menyiram, teman? Apalagi setiap hari? Jawabnya singkat: “TEMAN SENDIRI” dan seluruh civitas di sekolah dan masyarakat (komite sekolah) merupakan kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Tak ada yang paling utama dan tak ada yang lebih diutamakan. Ketiga itu menyatu tak ubahnya tumbuhan perlu cahaya, air, dan tanah sebagai media tumbuh.

Tanah adalah sekolah yang merupakan media tumbuh kembangnya tanaman. Tentunya tanaman itu tak akan tumbuh sempurna jika bibit itu dari bibit yang tidak berkualitas. Dan sebaliknya bibit berkualitas pun tak akan tumbuh bagus jika tanah tidak diolah dengan baik dan benar, lantas siapa yang mengolah. Gurulah yang menjadi sentral itu semua.

Maaf, aku tak sengaja mengajari atau menggurui pada semua yang membaca tulisanku ini, tetapi demikian kehendak tulisanku ini.
Kehadiran guru dalam sistem pendidikan untuk mengentaskan pengangguran merupakan bagian integral yang tak tergantikan oleh media pendidikan yang termodern sekalipun. Untuk itu diperlukan komitmen yang besar terhadap tanggung jawab tugasnya dalam mengintegrasikan nilai-nilai wirausaha pada setiap materi yang diajarkan. Dengan profil kepribadian dan kemampuan professional itulah diharapkan setiap guru dapat mengisi posisi strategisnya yang multidimensional. Peran multi inilah yang perlu dikaji oleh seluruh guru. Bahwa tugas guru adalah pembimbing, pengajar, pemodel, penyelidik, inspirator, pendorong kreatifitas, pendobrak, pencerita, aktor, evaluator, perancang adegan, pembangun masyarakat, dan sebagai pelestari budaya.

Melihat demikian majemuknya peran yang harus dimainkan oleh seorang guru, maka diperlukan komitmen yang kuat dan teknik serta seni penerapan yang relevan, harmonis, wajar, dan efektif.

Tulisan pada alinea  ini memfokuskan pembahasan pada peran guru yang bertindak sebagai orang yang berupaya menciptakan kondisi untuk menumbuhkembangkan kreatifitas siswa dan membelajarkan diri dalam menanamkan konsep pembelajaran berwirausaha dalam jangka waktu yang layak.

Andaikan kita memahami dalam dunia pendidikan pada era apapun dan dimanapun, guru adalah sosok sentral yang menempati posisi paling strategis untuk mengkonsep pendidikan berwirausaha. Betapa tidak, mereka adalah generasi yang berinteraksi secara langsung dengan generasi didik para siswa. Merekalah yang menghantarkan para siswa dengan sentuhan-sentuhan insani yang bersifat intelektual, emosional/afektif, psikomotorik ke arah pembentukan kepribadian berjiwa entrepreneur dan pengembangan berbagai kemampuan yang terkandung dalam tujuan pendidikan, menjadi manusia Indonesia seutuhnya.

Utuh artinya tidak pincang. Akan pincanglah jika kerjasama antar semua guru, staf, kepala sekolah, keluarga dan masyarakat tidak berjalan dengan  selaras dan serasi.
“Teman!”masih banyak yang ingin aku tulis, substansi dari tulisan ini belum terekam sepenuhnya. Mudah-mudahan teman betah membacanya. Jika teman merasa ngantuk ambillah segelas air putih. Niscaya tenggorokan teman menjadi segar. Dan akupun merasa takut jika tulisan yang panjang ini akan kau jadikan bahan pelampiasan tidurmu agar pulas karena kantuk.

Masih ingatkah akan bunga-bunga tadi. Tanaman itu harus di siram.Tinggalkan tulisanku dulu, langkahkan kaki, ambil gelas bersih, tuangkan air putih ke gelas! Teguklah air itu!. Kalau masih tersumbat, teguklah sekali lagi! Segarkan?

###

Baiklah akan kulanjutkan lagi. Sekolah adalah media tumbuh anak bangsa untuk mengentaskan pengangguran di Indonesia, sebagus apapun sekolah tidaklah cukup berarti jika sistem yang ditanam tidak mengarah pada konsep  “Membangun Sistem Pendidikan dan Konsep Pemikiran Pengentasan Pengangguran di Indonesia”.
Untuk itu teman..? konsep entrepreneur adalah sebuah tuntutan yang tak bisa dielakkan. Berikut ada tujuh alternatif menggagas paradigma baru yang harus dilakukan guru dengan mengedepankan pendidikan entrepreneur sebagai salah satu upaya mengentaskan pengangguran di Indonesia:

1. Menguasai materi secara mendalam. Menguasai materi pelajaran adalah syarat mutlak yang harus di miliki oleh semua guru. Seorang guru harus mengajar materi sesuai dengan keahliannya. Bila guru tidak memiliki bidang sesuai keahliannya maka peserta didik bisa menjadi korban.  Efeknya akan sangat sulit mengintegrasikan materi entrepreneur dalam setiap materi pelajarannya .Ingat..! Saat ini tantangan dunia global semakin dinamis, kompetitif dan akseleratif menuntut guru menyesuaikan diri dan mampu membuat teori-teori baru yang progresif. Lalu mencari inovasi dalam mengintegrasikan pembelajaran entrepreneur pada setiap pokok bahasan.

2. Mempunyai wawasan luas tentang entrepreneur. Seorang guru harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang terjadi di belahan dunia, sehingga cakrawala pemikirannya menjadi luas, mendunia dan “up to date”. Selalu ada hal baru tentang konsep yang mengarah pada pembelajaran wirausaha. Hal ini akan menjadi salah satu daya tarik untuk  menggugah semangatnya berwirausaha.

3. Menggali potensi anak didik. Tugas terpenting dalam mengentaskan pengangguran di Indonesia adalah menggali potensi terbesar anak didiknya.Tugas ini sulit terlaksana jika seorang guru tidak memiliki “Tulus Hati” mencari dan terus mencari bakat yang dimiliki masing-masing peserta didiknya.Untuk itu, berkomunikasi menggali bakat merupakan hal yang sangat penting sebagai pendekatan psikologis peserta didik untuk selalu menyapa dan menanyakan kondisinya. Guru yang suka menanyakan dan memperhatikan kondisi muridnya lebih diterima anak didiknya. Hal ini di karenakan mereka merasa diperhatikan sehingga guru dianggap bagian darinya.

4. Mengkombinasikan antara teori dan praktik. Bila dalam pembelajaran anak didik hanya dijejali dengan teori tanpa ada praktik, maka mereka akan mudah jenuh. Praktik sangat diperlukan sebagai media menurunkan, mengendapkan, dan melekatkan pemahaman materi pada otak anak didik. Praktik bisa berupa turun langsung ke lapangan atau ke laboratorium. Dengan praktik, ilmu dapat berkembang dengan pesat dan anak didik terlatih untuk menerapkan ilmu yang dipelajari. Praktik menjadi suatu keharusan pada semua materi, khususnya materi yang membutuhkan aplikasi sehari-hari dengan mengintegrasikan konsep berwirausaha. Contoh pada materi biologi tentang pemuliaan tanaman, sangatlah tepat jika guru biologi mengajak siswa mencoba teknik membuat buah tanpa biji, membuat perangkap serangga inovatif, membuat biofilter air, udara dan lain-lain. Ingat!!...Terlalu sering praktik dapat juga membuat kejenuhan peserta didik. Untuk itu “balance” antara teori dan praktik merupakan hal yang perlu di perhatikan oleh guru dalam menyampaikan materi.

5. Bertahap. Konsep pembelajaran entrepreneur secara bertahap, artinya seorang guru harus menyampaikan materi pelajaran secara urut, tidak meloncat-loncat. Ketika mengajar, guru harus arif dan bijaksana. Jangan memberikan semua pengalaman dan ilmu kepada peserta didik dalam satu kesempatan. Namun guru harus memberikan pengalaman dan ilmu sedikit demi sedikit agar siswa bisa menerimanya dengan baik. Sebab jika diberikan sekaligus akan mudah hilang.
Untuk mencapai hal tersebut, variasi pendekatan dalam proses belajar-mengajar mutlak dipahami. Semua guru harus mempelajari banyak pendekatan, metode, dan model pengajaran.

6.Tidak terlalu menekan dan memaksa. Mengintegrasikan entrepreneur dalam materi pelajaran harus dilakukan secara alami, tidak terlalu menekan dan memaksa siswa. Sebab bila guru memaksa dan menekan siswa, efeknya tidak positif bagi perkembangan psikologisnya.  Seorang guru harus bisa menyelami psikologis anak didik, memberikan materi secara mengalir sesuai falsafah air yang mengalir secara pelan, mampu menerobos hal-hal sulit dan merobohkan hal-hal besar dengan ketekunan, kerajinan dan kesungguhan. Idealisme seorang guru harus ditunjang dengan kearifan, kebijaksanaan, dan kecerdasan dalam membangkitkan semangat belajar berwirausaha. Guru harus bisa merekayasa suasana, sehingga secara tidak terasa anak didik yang justru berinisiatif meminta guru menambah materi tentang kewirausahaan. Disinilah letak kesuksesan guru, inisiatif datang dari siswa, bukan dari guru.

7. Menghadirkan guru tamu. Rencana berkesinambungan perlu dilakukan oleh pihak sekolah dengan menghadirkan  tokoh-tokoh inspiratif, pengusaha sukses untuk menjadi guru tamu. Tujuan utama adalah untuk sharing berbagi pengalaman hidupnya hingga menjadi orang terkenal yang sukses.

Tujuh indikator yang penulis jabarkan di atas merupakan gambaran menjadi kriteria guru yang ingin memimpikan anak didik kita berjiwa entrepreneur untuk membekali anak didiknya tidak menjadi pengangguran kelak.

Tidak ada waktu yang lebih baik selain memulai hidup yang baik dengan menerapkan pembelajaran yang unggul, kreatif dan innovative, yang mampu menghantarkan anak-anak dengan konsep jiwa entrepreneur sejak dini.

Dengan semangat menggelora Guru-guru SMA tidak hanya memiliki slogan  “UNGGUL” tapi juga “BISA” memberi terobosan baru dalam mengentaskan pengangguran di Indonesia tentang pentingnya integrasi dan implementasi pendidikan wirausaha sebagai bekal pada peserta didik untuk berkompetisi terbuka di era global saat ini dan yang akan datang.

Guru Terbaik LP3I 2013

*) Ruswanto, S.Pd., guru di Sekolah Indonesia Singapura sejak 2014. Pernah mengajar di SMAN 1 Rembang tahun 2009 – 2011. Naskah ini meraih Juara 1 Lomba Guru Terbaik LP3I Tahun 2013 dengan hadiah umrah.

Komentar