Upacara pengibaran bendera dalam rangka memperingati Hari Kartini tahun 2019

Upacara pengibaran pada Senin 22 April 2019 tampak berbeda sebab petugas upacara adalah para ibu guru. Biasanya petugas upacara bendera adalah kelas yang ditunjuk sesuai jadwal. Namun dalam rangka memperingati hari Kartini tahun 2019, petugas upacaranya para ibu guru. Hal berbeda lainnya, seluruh warga sekolah mengenakan pakaian adat.

Pembina upacara adalah Elie Setijawati, S.Pd., guru mata pelajaran sejarah SMAN 1 Rembang. Dalam amanatnya, Elie menyampaikan sejarah singkat RA Kartini dan memberi motivasi kepada seluruh peserta upacara agar meneladani RA Kartini.

Raden Ajeng Kartini, lahir di Jepara Jawa Tengah tanggal 21 April 1879 dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yakni bupati Jepara dengan M.A. Ngasirah. 

Sejarah perjuangan RA Kartini semasa hidupnya berawal ketika berumur 12 tahun dilarang melanjutkan studinya. Sebelumnya ia bersekolah di Europese Lagere School (ELS) dimana ia juga belajar bahasa Belanda. Ayahnya bersikeras Kartini harus tinggal di rumah karena usianya sudah mencapai 12 tahun (dipingit). Selama masa ia tinggal di rumah, Kartini kecil mulai menulis surat-surat kepada teman korespondensinya yang kebanyakan berasal dari Belanda.

Melalui surat-surat itu, ia mencurahkan segala unek-uneknya tentang beberapa hal yang ia anggap memojokkan wanita pada waktu itu. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

RA Kartini wafat pada 13 September 1904 pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. 

Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran.

 

Komentar